BAB
I
PENGEMBANGAN
PAI DI SEKOLAH DASAR
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan agama Islam adalah suatu usaha untuk membina dan
mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara
menyeluruh, menghayati tujuan, dan akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan
Islam sebagai pandangan hidup.Oleh karena itu, ketika kita menyebut pendidikan
Islam, maka akan mencakup dua hal, yaitu: pertama mendidik siswa agar untuk
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak yang Islami. kedua, mendidik
siswa-siswi untuk mempelajari materi ajaran Islam (subjek pelajaran berupa
pengetahuan tentang ajaran Islam).
Pada
umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, dan
latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya. Seseorang yang pada waktu
kecilnya tidak mendapatkan pendidikan agama, maka pada masa dewasanya nanti ia
akan merasakan bahwa pentingnya agama dalam hidupnya. Lain halnya dengan orang
yang pada masa kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama, misalnya ibu dan
bapaknya orang yang beragama, lingkungan sosial dan kawan-kawannya juga hidup
menjalankan agama, ditambah pula dengan pendidikan agama di rumah, masyarakat,
dan sekolah secara sistematis. Maka, dengan sendirinya orang tersebut akan
mempunyai kecenderungan kepada hidup dalam aturan beragama, terbiasa
menjalankan ibadah, takut melangkahi larangan-larangan agama, dan dapat
merasakan betapa nikmatnya hidup beragama. Dari sebab-sebab itulah diketahui
bahwa pentinnya pendidikan agama di sekolah, terutama pada sekolah dasar (SD).
Mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di Sekolah Dasar (SD) secara keseluruhan
berada pada lingkup al-Qur’an dan al-Hadits, keimanan, akhlaq, fiqih, dan
sejarah. Ruang lingkup pendidikan agama Islam mencakup pewujudan keserasian,
keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Allah SWT, diri sendiri,
sesama manusia, mahluk lainnya maupun lingkungannya (Hablun minallah wa hablun
minannas). Jadi pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan
pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan
mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atau pelatihan
yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
atar belakang tersebut dapat diambil rumusan masalah sebagaiberikut:
1. Bagaimana dasar pelaksanaan PAI di sekolah
dasar?
2. Bagaimana pengembangan PAI di sekolah dasar
melalui pendekatan tematik?
BAB
II
Pembahasan
1. Dasar pelaksanaan PAI di sekolah dasar
Pendidikan
agama Islam merupakan bagian dari pendidikan Islam. Pendidikan Islam merupakan
subsistem pendidikan nasional dan ini sesuai dengan UU No. 2, tahun 1989,
tentang pendidikan nasional.Pelaksanaan pendidikan agama Islam di pendidikan
formal atau sekolah mempunyai dasar-dasar yang sangat kuat, dan ini dapat
ditinjau dari beberapa segi, yaitu:
a)
Dasar yuridis. Yaitu dasar pelaksanaan pendidikan agama yang berasal dari
peraturan perundang-undangan, yang secara langsung maupun tidak langsung dapat
dijadikan pegangan dalam melaksanakan pendidikan agama, disekolah-sekolah
ataupun dilembaga-lembaga pendidikan formal di Indonesia.
Dasar
Ideal. Adalah dasar dari Falsafah Negara, dimana sila pertama dari Pancasila
adalah
- Ketuhanan Yang Maha Esa
- Dasar Operasional. Yakni dasar dari UUD 1945.
- Dasar Struktural / Konstitusional.
Adalah
dasar yang secara langsung mengatur pelaksanaan pendidikan agama di
sekolah-sekolah yang ada di Indonesia, seperti disebutkan dalam Tap MPR No. IV/
MPR/ 1973 yang kemudian dikokohkan lagi pada Tap MPR No.IV/ MPR/ 1978 Jo
Ketetapan MPR No. II/ MPR/ 1983, Ketetapan MPR No.II/MPR/ 1988, Ketetapan MPR
No. II/ MPR/ 1993 tentang GBHN yang pada pokoknya dinyatakan bahwa pelaksanaan
pendidikan agama secara langsung dimasukkan kedalam kurikulum di
sekolah-sekolah, mulai dari Sekolah Dasar sampai dengan Universitas-Universitas
Negeri.
b)
Dasar religius. Yang dimaksud dengan dasar religius adalah dasar yang bersumber
dari ajaran Islam. Menurut ajaran Islam pendidikan agama adalah perintah Tuhan
dan merupakan perwujudan ibadah kepada-Nya. Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang
menunjukkan perintah tersebut, antara lain, Qur’an, Q.S. An-Nahl: 125. “Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. An-Nahl: 125)
c)
Dasar psikologis. Dasar psikologis adalah dasar yang ber-hubungan dengan aspek
kejiwaan kehidupan individu ataupun masyarakat.
Pengajaran
agama dan bimbingan Islam di seluruh tingkatan pengajaran didalam sekolah
maupun di luar sekolah, sebelum kelulusan dan setelahnya. Karena, agama
meliputi seluruh segi kehidupan dan menunjukkan ke jalan yang paling lurus.
Jika pengajarannya dilakukan dengan cara-cara yang mudah, sistematis dan
aktual. Sehingga beragama menjadi menyenangkan.
Pendidikan
agama Islam di SD/MI bertujuan:
- Menumbuh-kembangkan aqidah melalui pemberian, pemupukan, pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia Muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT.
- Mewujudkan manusia Indonesia yang taat beragama dan berakhlaq mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, berdisiplin, bertoleransi, serta menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas sekolah.
Pendidikan
Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada
manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan
berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil,
berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif,
baik personal maupun sosial. Tuntunan visi ini mendorong dikembangkannya
standar kompetensi sesuai dengan jenjang persekolahan yang secara nasional
ditandai dengan ciri-ciri:
- Lebih menitik-beratkan pencapaian kompetensi secara utuh selain penguasaan materi.
- Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia.
- Memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan sumber daya pendidikan.
- Melalui pendidikan agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global. Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang telah ditetapkan. Pencapaian seluruh Kompetensi Dasar perilaku terpuji dapat dilakukan secara tidak formal. Peran semua unsur sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan agama Islam.
2. Pengembangan PAI di sekolah dasar melalui pendekatan
tematik
Pembelajaran
PAI di SD dengan pendekatan tematik. Mengajar adalah membantu peserta didik
memperoleh informasi, ide, ketrampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk
mengekspresikan dirinya, dan cara-cara bagaimana belajar. Sedangkan
pembelajaran adalah adalah upaya untuk membelajarka peserta didik. Dalam
pembelajaran terdapat kegiatan memilih menetapkan, dan mengembangkan metode
untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Model
pembelajaran tematik adalah model pendekatan pembelajaran yang dilaksanakan
dengan mengintegrasikan berbagai materi ajar dengan karakteristik dan aspek
materi yang saling berkaitan di dalam satu kegiatan pembelajaran yang tersusun
secara terencana dan sistematis.11Pembelajaran PAI dengan pendekatan tematik
adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa
aspek/topik sehingga dapat mem-berikan pengalaman bermakna kepada peserta
didik. Tema diambil dari pokok pikiran atau gagasan yang sama dari aspek-aspek
tersebut. Pendekatan tematik ini menjadi urgenkarena pemikiran anak pada usia
ini belum mampu memilah-milah keilmuan seperti pada pendekatan mata pelajaran.
Namun permasalahannya adalah, di SD guru PAI bukan guru kelas. Jika materi PAI
disampaikan oleh guru kelas, hal ini akan menimbulkan masalah jika ada
perbedaan agama antara peserta didik dengan guru kelas. Karena itulah, pola
yang dapat diakomodir adalah menetapkan tema-tema dalam lingkup PAI, yang
meliputi: Al Qur’an, Aqidah, Fikih, Akhlak, dan SKI.
Tujuan
pembelajaran PAI secara tematik adalah:
- Agar peserta didik mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas.
- Agar peserta didik mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai Kompetensi Dasar antara aspek dalam satu tema.
- Agar pemahaman peserta didik terhadap aspek PAI lebih mendalam dan berkesan.
- Agar Kompetensi Dasar dapat dikembangkan lebih baik karena mengaitkan aspek/topik dengan pengalaman pribadi dalam situasi nyata yang diikat dalam tema tertentu.
- Untuk menghemat waktu, karena tidak terjadi pengulangan dan tumpang tindih materi.
- Dengan adanya pemaduan antara aspek/pokok bahasan, maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat.
Manfaat
pembelajaran PAI secara tematik adalah:
- Terjadi peng-hematan waktu karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihindari.
- Peserta didik akan mampu melihat hubungan yang ber-makna antar aspek/pokok bahasan.
- Pembelajaran menjadi utuh dan tidak terpecah-pecah.
Penguasaan
konsep semakin baik dan matang. Implikasi dari model pembelajaran PAI secara
tematik, guru PAI harus kreatif dalam menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar
bagi peserta didik, memilih kompetensi dari berbagai aspek/pokok bahasan, dan
mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan
utuh.
Beberapa
prinsip pelaksanaan pembelajaran PAI secara tematik adalah:
- Memadukan antar aspek dalam mata pelajaran PAI, bukan PAI dengan pelajaran lain.
- Tidak semua aspek dapat dipadukan, Kompetensi Dasar yang tidak bisa dipadukan diajarkan tersendiri.
- Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi lintas semester.
- Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan mempraktekkan, serta penanaman nilai-nilai akhlak mulia.
- Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan keadaan daerah setempat.
- Pengembangan materi dilakukan secara kontekstual, disesuaikan dengan kondisi kekinian. Pengembangan materi PAI bisa juga diintegrasikan dengan materi/pengetahuan lain yang relevan. Misalnya hubungan antara bersuci dengan menjaga kebersihan. Untuk menyesuaikan dengan karakteristik anak usia SD, dalam pembelajaran PAI guru dapat menggunakan berbagai metode yang menyenangkan, misalnya: bernyanyi, bermain, cerita, bermain peran, dll.
BAB
III
Kesimpulan
Dasar
pelaksanaan PAI di sekolah dasar meliputi dasar yuridis, dasar religisu dan
dasar psikologis. Peran semua unsur sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat
sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan agama
Islam. Guru dapat melakukan pembelajaran secara tematik, dan mengembangkan
materi pembelajaran yang disesuaikan dengan kondisi siswa,sekolah, dan
lingkungan. Dalam merancang pembelajaran PAI secaratematik, guru dapat
melakukan organisasi materi tidak berdasarkan urutan dalam SK/KD. Hal ini
menuntut guru PAI untuk mengembangkan kreativitasnya
DAFTAR
PUSTAKA
Departeman
Agama RI. Pedoman Penyusunan Pembelajaran Tematik PAI SD. Jakarta: Departeman Agama RI. 2009.
Majid,
Abdul. Pendidikan Agama Islam Berbasis Kompetensi Konsep dan Implementasi
Kurikulum 2004. Bandung: Remaja RosdaKarya. 2004.

Comments
Post a Comment