ADAB SUNNAH, TATACARA DAN BACAAN DO'A WUDHU
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
1.
Pengertian Wudhu
Thaharah
(bersuci) adalah salah satu ibadah yang Allah perintahkan kepada kita semua.
Ibadah ini sangat penting karena menjadi syarat keabsahan ibadah shalat kita.
Secara istilah syariat, thaharah adalah menghilangkan hadats dan najis dengan
sarana tertentu dan dengan tata cara tertentu. Thaharah hukumnya wajib. Wudhu
hukumnya wajib bagi setiap orang yang berhadats kecil yang hendak mengerjakan
shalat.
Wudhu
(الوضوء)
menurut bahasa diambil dari kata Wadhuah artinya “bagus”. Sedangkan menurut
istilah adalah artinya “menggunakan air pada anggota badan tertentu seraya
dimulai dengan niat”.
Mengetahui
bagaimana tatacara wudhu yang benar adalah sebuah perkara yang sangat penting
dikarenakan wudhu adalah ibadah yang sangat agung yang merupakan syarat sah
ibadah shalat seseorang. Disamping itu wudhu mempunyai keutamaan yang sangat
banyak dan diantara keutamaan wudhu yang datang penyebutannya didalam sebuah
hadist yaitu dimana Rasulullah shallallahu alaihiwasallam bersabda :
مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ – أَوْ فَيُسْبِغُ – الْوُضُوءَ
ثُمَّ يَقُولُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ
اللَّهِ وَرَسُولُهُ إِلاَّ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ
مِنْ أَيِّهَا شَاءَ
“
Tidaklah salah seorang diantara kalian berwudhu dan sampai selesai atau
menyempurnakan wudhu kemudian membaca doa : “ Aku bersaksi tidak ada ilah
(sesembahan) yang berhaq disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwasannya
Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya, melainkan akan dibukakan baginya
delapan pintu surga yang dia bisa masuk dari pintu mana saja yang dia
kehendaki.”
Dalam
sebuah riwayat : “Aku bersaksi tidak ada ilah (sesembahan) yang berhaq disembah
kecuali Allah semata yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi
bahwasannya Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya” (HR. Muslim).
2.
Sunnah-Sunnah Dalam Berwudhu
1.
Mengucapkan بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِ " Dengan menyebut Nama Allah."
Hal
ini berdasarkan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda :
لاصلاة لمن لا وضوء له, ولا وضوء لمن لم يذكر اسم الله – تعالى – عليه
“Tidak
ada shalat (tidak sah) orang yang shalat tanpa berwudhu dan tidak ada wudhu
(tidak sah) wudhunya seseorang yang tidak menyebut nama Allah.”
2.
Membasuh kedua telapak tangan tiga kali.
عَنْ حُمْرَانَ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ أَنَّهُ رَأَى عُثْمَانَ
دَعَا بِوَضُوءٍ فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ مِنْ إِنَائِهِ فَغَسَلَهُمَا ثَلاَثَ مَرَّاتٍ
ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ
ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا وَيَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ ثَلاَثًا ثُمَّ مَسَحَ
بِرَأْسِهِ ثُمَّ غَسَلَ كُلَّ رِجْلٍ ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صلى
الله عليه وسلم يَتَوَضَّأُ نَحْوَ وُضُوئِي هَذَا وَقَالَ مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ وُضُوئِي
هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Dari
Humran –bekas budaknya Ustman Bin Affan- pernah melihat Ustman meminta air
untuk wudhu, “ lalu beliau (Ustman) menuangkan air ke kedua telapak tangannya
dari wadah tersebut maka dibasuhlah (dicuci) sebanyak tiga kali, beliau lantas
mencelupkan tangan kanannya kedalam air tersebut kemudian berkumur-kumur,
istinsyaq (memasukkan air kedalam hidung) dan istinsyar (mengeluarkannya).
Kemudian beliau membasuh wajahnya sebanyak tiga kali, kemudian membasuh
tangannya sampai sikunya sebanyak tiga kali, kemudian mengusap kepalanya,
kemudian membasuh (mencuci) setiap kakinya sebanyak tiga kali. Kemudian beliau
berkata Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berwudhu seperti
wudhuku ini dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa
yang berwudhu seperti wudhuku ini kemudian shalat dua rakaat tidak berkata-kata
di jiwanya (khusyu’), maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
3.
Mendahulukan madhmadhah (berkumur-kumur) dan istinsyaq sebelum membasuh muka.
Dalam sebuah hadits diantaranya Yang diriwayatkan oleh Humran tentang praktek
wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dilakukan oleh Utsman Bin
Affan sampai pada perktaan
ثُمَّ أَدْخَلَ يَمِينَهُ فِي الْوَضُوءِ ثُمَّ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ
وَاسْتَنْثَرَ
“…..Beliau
lantas mencelupkan tangan kanannya kedalam air tersebut kemudian
berkumur-kumur, istinsyaq (memasukkan iar kedalam hidung) dan istinsyar
(mengeluarkannya)…”
4.
Setelah istinsyaq lalu istintsar (dengan telapak tangan kiri) berdasarkan
hadits:
"
... Lalu Nabi mencuci kedua telapak tangan tiga kali kemudian berkumur-kumur
dan istinsyaq, lalu istintsar, lalu membasuh wajahnya tiga kali..." (Muttafaq 'aliah)
5.
Bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur dan istinsyaq kecuali bagi orang yang sedang
berpuasa. Berdasarkan hadits:
وَبَالِغْ فِى الاِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُونَ صَائِمًا
"
... Bersungguh-sungguhlah dalam berkumur-kumur dan istinsyaq, kecuali kalau
kamu sedang berpuas." .
Makna
bersungguh-sungguh dalam berkumur-kumur ialah menggerakkan air ke seluruh
bagian mulut, sedangkan makan bersungguh-sunnguh dalam istinsyaq adalah
menghirup air sampai ke bagian hidung yang paling dalam.
6.
Menyatukan antara berkumur-kumur dan istinsyaq dengan sekali cidukan tangan
kanan, tanpa pemisahan keduanya.
Berdasarkan
hadits:
"
... Kemudian Nabi saw. memasukkan tangannya (ke dalam bejana) lalu ia berkumur
dan ber-istinsyaq dari satu cidukan telapak tangan." (Muttafaq 'alaih).
7.
Bersiwak.
Waktu
pelaksanaannya adalah ketika akan berkumur-kumur, dengan dasar hadits
Rasulullah saw.:
"
Kalaulah tidak khawatir akan memberatkan ummatku, niscaya aku akan
memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu!".
8.
Menyela-nyela jenggot yang lebat ketika membasuh muka.
Berdasarkan
hadits Rasulullah saw.
"Nabi
saw. menyela-nyela jenggotnya."
9.
Mengusap kepala.
Cara
mengusap kepala yaitu memulai bagian depan kepala kemudian menggerakkan kedua
tangan hingga ke belakang (tengkuk) lalu mengembalikan ke tempat semula. Adapun
yang wajib adalah membasuh seluruh bagian kepala dengan cara apapun juga. Hal
ini berdasarkan hadits Rasulullah saw.:
ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ ، بَدَأَ
بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى
الْمَكَانِ الَّذِى بَدَأَ مِنْهُ »
"
... Kemudian Rasulullah saw. mengusap kepalanya, lalu menjalankan kedua
tangannya ke belakang dan mengembalikannya... " (Mutaffaq 'alaih).
10.
Menyela-Nyela jari-jari kedua tangan dan kaki
Berdasarkan
hadits:
أَسْبِغِ الوُضُوءَ، وَخَلِّلْ بَيْنَ الأَصَابِعِ
"Sempurnakanlah
wudhu dan basuhlah sela-sela jari jemari...".
11.
At-Tayammun (Memulai dari sebelah kanan).
At-Tayammun
(dalam wudhu) artinya mendahulukan membasuh tangan dan kaki yang sebelah kanan
kemudian yang kiri. Rasulullah saw. bersabda:
"Adalah
Rasulullah saw. menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sandalnya,
menyisir, bersuci dan dalam semua urusannya." (muttafaq 'alaih) .
12.
Menambah bilangan basuhan dari sekali menjadi tiga kali.
Tambahan
ini berlaku dalam membasuh muka, kedua tangan dan kedua kaki.
13.
Mengucapkan dua kalimat syahadat selesai berwudhu.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ
"Aku
bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah, tidak ada
sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan
utusan-Nya."
Manfaatnya
disebutkan dalam sebuah riwayat: "Niscaya akan dibukakan baginya delapan
pintu surga dan ia bisa masuk dari pintu mana saja yang ia sukai. (H.R.
Muslim).
14.
Berwudhu di rumah.
Rasulullah
saw. bersabda:
"Barangsiapa
yang berwudhu' di rumahnya, kemudian berjalan ke masjid untuk melaksanakan
kewajiban dari Allah (shalat), maka langkah kaki yang satu menghapus dosa dan
langkah yang lain mengangkat derajat." (H.R. Muslim).
15.
Ad-Dalk
Yaitu,
menggosokkan telapak tangan pada anggota wudhu bersama air atau setelahnya.
16.
Berhemat dalam menggunakan air
dalam
sebuah hadits Anas Bin Malik berkata :
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَغْسِلُ ، أَوْ كَانَ يَغْتَسِلُ –
بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ
“
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mandi dengan satu sha’ sampai lima mud dan berwudhu
dengan satu mud.” (HR. Mutafaqun alaihi).
1
shaa’ = 4 mud
1
mud = gabungan telapak tangan orang dewasa yang sedang (tidak besar dan kecil)
17.
Melewati batasan yang diwajibkan dalam membasuh empat anggota wudhu' (kedua
tangan dan kedua kaki).
Dalam
sebuah riwayat disebutkan:
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ تَوَضَّأَ فَغَسَلَ يَدَهُ حَتَّى أَشْرَعَ فِيْ العَضُدِ،
وَرِجْلَهُ حَتَّى أَشْرَعَ فِيْ السَّاقِ، ثُمَّ قَالَ : هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُلَ
اللهِ يَتَوَضَّأُ
"
... Ketika Abu Hurairah r.a berwudhu, ia membasuh tangan hingga mengenai bagian
lengan atasnya, dan membasuh kakinya sampai betis. Kemudian ia berkata:
"Demikian aku pernah melihat Rasulullah saw. berwudhu." (H.R.
Muslim).
18.
Shalat dua raka'at setelah wudhu
Rasulullah
saw. bersabda:
مَنْ تَوَضَّأَ نَحْوَ
وُضُوئِي هَذَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ فِيهِمَا نَفْسَهُ غَفَرَ
اللَّهُ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa
berwudhu' seperti wudhu'ku ini, kemudian ia mengerjakan shalat dua raka'at pada
yang keduanya ia tidak berbicara dengan dirinya sendiri, maka akan diampuni
dosanya yang lebih dahulu." .
Pada
riwayat Muslim, ada tambahan pada hadits 'Uqbah bin 'Amir, yaitu:... Melainkan
pasti ia mendapat surga."
19.
Menyempurnakan wudhu'
Yaitu,
memberikan hak kepada setiap anggota wudhu' dengan membasuhnya secara sempurna
dan menyeluruh. Seorang Muslim dalam kesehariannya berwudhu berkali-kali,
paling tidak lima kali, dan yang lainnya terkadang lebih dari lima kali ketika
dia hendak melakukan shalat-shalat sunnah seperti shalat dhuha dan shalat lail
(malam). Jika setiap kali berwudhu seorang Muslim mengamalkan sunnah-sunnah
tersebut, tentu ia akan mendapatkan pahala yang sangat banyak.
2.
Faedah Mengikuti Sunnah Rasul Dalam Berwudhu
"Barang
siapa di antara kalian berwudhu' kemudian membaguskan wudhunya lalu ia bangkit
untuk shalat dua rakaat dengan hati yang khusu' dan wajah yang khudu' (tunduk),
maka ia pasti akan mendapat surga dan dosa-dosanya di ampuni.".
Imam
Nawawi berkata: "Sesungguhnya derajat yang didapatkan oleh orang yang
membaguskan wudhu'nya adalah, ia mampu berjuang membela dirinya dari
kejahatan-kejahatan syaitan dan menghilangkannya dari dirinya, serta menjaga
dirinya agar tidak diganggu oleh syaitan walaupun hanya sekejap mata. Dia
selamat dari syaitan dengan perjuangannya (untuk melakukan sunnah-sunnah wudhu)
dan ia mendapatkan kelapangan hati."
Comments
Post a Comment